
5.1 Pengertian Penderitaan
Penderitaan atau kesengsaraan dalam erti kata luas bermakna
pengalaman afektif kesusahan and keperitan seseorang individu. Penderitaan
boleh jadi berbentuk fisikal atau mental. Keamatannya berbeza-beza, daripada
ringan hinggalah tidak tertahan. Faktor masa dan kekerapan lazimnya memburukkan
lagi keadaan. Selain faktor-faktor ini, sikap seseorang terhadap penderitaanya
mungkin mengambil kira aspek berapa banyak kesengsaraan itu, adakah ia boleh
dielakkan, kegunaannya dan sama ada ia berpatutan.
Rasa kurang mengakibatkan munculnya wujud penderitaan,
bahkan lebih dari itu yaitu rasatakut. Rasa takut setiap saaat dan setiap
tempat dapat muncul. Maka hal itu merupakan musuhutama manusia (Dr. Orison
Sweet Marden)Sekarang yang paling penting upaya kita untuk meniadakan rasa
takut dan rasa kurang ituKarena keduanya itu termasuk penyakit batin manusia
maka usaha terbaik adalahmenyehatkan batin itu.Kita mengetahui bahwa faktor
yang mempengaruhi penderitaan itu adalah faktor internal daneksternal.
>
Faktor
ini dapat dibedakan dua macam yaitu:
1. Eksternal
murni, yaitu penyebab yang benar-benar berasal dari luar diri manusia yang
bersangkutan.
2. Eksternal
tak murni, yaitu penyebabnya tampak dari luar diri manusia, tetapisebenarnya
dari dalam diri manusia yang bersangkutan.
Bila kita mengalami penderitaan maka sikap kita yang
paling jitu adalah "mawas diri".Dengan jalan itu dapat memperoleh
jawaban penderitaan sebagai ujian Allah, sehingga kitamenjadi orang yang sabar
dan tawakkal sambil berikhtiar menyingkirkan penderitaan.
Setiap manusia pasti mengalami penderitaan, baik
secara berat ataupun ringan. Penderitaanadalah bagian kehidupan manusia yang
bersifat kodrati. Karena itu terserah kepada manusiaitu sendiri untuk berusaha
mengurangi penderitaan itu semaksimal mungkin, bahkanmenghindari atau
menghilangkan sama sekali. Manusia adalah makhluk berbudaya, dengan budayanya
itu ia berusaha mengatasi penderitaan yang mengancam atau dialaminya. Hal inimembuat
manusia itu kreatif, baik bagi penderita sendiri maupun bagi orang lain
yangmelihat atau mengamati penderitaan.
Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya
sudah menjadi konsekwensi manusiahidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan
hanya untuk bahagia, melainkan jugamenderita. Karena itu manusia hidup tidak
boleh pesimis, yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia
harus optimis, ia harus berusaha mengatasi kesulitan hidupnya. Allah berfirman
dalam surat Arra‟du ayat 11, bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang
kecuali orang itu sendiri yang berusaha merubahnya.
Pembebasan dari penderitaaan pada hakekatnya
meneruskan kelangsungan hidup. Caranyaialah berjuang menghadapi tantangan hidup
dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa
kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Kita sebagai manusia
hanya bisa merencanakan namun yang Tuhanlah yangyang menentukan hasilnya.
5.2 Sebab-sebab Timbulnya Penderitaan
Jika
Diklasifikasikan berdasarkan sebab – sebab munculnya penderitaan manusia itu
ada dua, yang pertama yaitu Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk
manusia, dan yang kedua Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab
tuhan.
> Penderitaan
yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan
yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam
hubungan sesame manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
Penderitaan ini kadang disebut dengan nasib buruk. Nasib buruk ini dapat
diperbaiki manusia supaya menjadi baik. Dengan kata lain, manusialah yang dapat
memperbaiki nasibnya. Allah SWT berfirman, Aku tidak akan pernah merubah nasib
hambaku, melainkan Hambaku sendirilah yang merubahnya. Sudah jelas Tuhan tidak
akan mengubah nasib hambanya, karena atas usaha hambanya sendirilah yang bisa
mengubah nasibnya itu. Adapun perbedaan antara nasib buruk dan takdir, kalau
takdir Tuhan yang menjadi penentunya sedangkan nasib buruk itu manusia lah
penyebabnya.
> Penderitaan
yang timbul karena penyakit, siksaan / azab tuhan
Penderitaan manusia
dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran,
tawakal, dan optimism dapat merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan
itu. Banyak contoh kasus penderitaan semacam ini dialami manusia.
> Beberapa
kasus penderitaan dapat diungkapkan berikut ini :
Seorang
anak lelaki buta sejak diahirkan, diasuh dengan tabah oleh orang tuanya. Ia
disekolahkan, kecerdasannya luar biasa. Walaupun ia tidak dapat melihat dengan
mata hatinya terang benderang. Karena kecerdasannya, ia memperoleh pendidikan
sampai di universitas, dan akhirnya memperoleh gelar doctor di Universitas
Sourbone Perancis. Dia adalah Prof.Dr. Thaha Husen, guru besar Universitas di
Kairo, Mesir.
Nabi Ayub mengalami
siksaan Tuhan, tetapi dengan sabar ia menerima cobaan ini. Bertahun – tahun ia
menderita penyakit kulit, sehingga istrinya bosan merawatnya, dan ia
dikucilkan. Berkat kesabarannya dan kepasrahannya kepada Tuha, maka seiring
berjalannya waktu Nabi Ayub pun sebuh dan tampak lebih muda, sehingga istrinya
tidak mengenalinnya lagi. Disini kita dihadapkan kepada masalah sikap hidup
kesetiaan, kesabaran, tawakal, percaya, pasrah, tetapi juga sikap hidup yang
lemah, seperti kesetiaan dan kesabaran sang istri yang luntur, karena penyakit
Nabi Ayub yang cukup lama.
Tenggelamnya Fir’aun di
laut merah seperti disevutkan dalam Al – Qur’an adalah azab yang dijatuhkan
Tuhan kepada orang yang angkuh dan sombong. Fir’aun adalah raja mesir yang
mengaku dirinya Tuhan. Ketika Fir’aun bersama bala tentaranya mengejar nabi
Musa dan para pengikutya menyeberangi laut merah, laut itu terbelah dan Nabi
Musa serta para pengikutnya berhasil melewatinya. Ketika Fir’aun dan tentaranya
berada tepat ditengah belahan laut merah itu, seketika juga laut merah itu
tertutup lagi dan mereka semua tenggelam.
5.3 Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani,
namun dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat dari siksaan adalah
penderitaan yang dialami seseorang.
Berita mengenai siksaan kita temui dalam kehidupan
sehari-hari. Sebagai contoh dalam berita, seorang terbunuh, diperkosa, dicuri,
dirampok, dan sebagainya. Namun, pada segi lain sebuah siksaan atau penderitaan
seorang dapat dijadikan keuntungan untuk pohak-pihak jurnalis.
Siksaan yang sifatnya psikis misalnya kebimbangan, kesepian,
dan ketakutan.
1.
Kebimbangan, dialami oleh seseorang bila ia pada suatu saat tidak dapat
menentukan pilihan mana yang akan diambil. Akibat dari kebimbangan seseorang
berada dalam keadaan yang tidak menentu, sehingga ia merasa tersiksa dalam
hidupnya saat itu.
2.
Kesepian, dialami oleh seseorang merupakan rasa sepi dalam dirina sendiri atau
jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang ramai. Kesepian ini tidak boleh
dicampur adukkan dengan keadaan sepi seperti yang dialami oleh petapa atau
birawan yang tinggalnya ditempat yang sepi. Kesepian juga merupakan salah satu
wujud dari siksaan yang dapat dialami oleh seseorang.
3.
Ketakutan, merupakan bentuk lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami
siksaan batin. Bila rasa takut itu dibesar-besarkan yang tidak pada tempatnya,
maka disebut sebagai phobia. Pada umumnya orang memiliki satu atau lebih phobia
ringan seperti takut pada tikus, ular, serangga, dan lain sebagainya, tetapi
pada sementara orang ketakutan itu sesedmikian hebatnya sehingga sangat
mengganggu.
> Banyak sebab yang menjadikan
seseorang merasa ketakutan, antara lain:
a) Claustrophobia dan
Agoraphobia
Claustrophobia
adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup. Agoraphobia adalah ketakutan yang
disebabkan seseorang berada di tempat terbuka
b) Gamang, merupakan ketakutan
bila seseorang di tempat yang tinggi. Hal itu disebabkan karena ia takut akibat
berada di tempat yang tinggi.
c) Kegelapan, merupakan suatu
ketakutan seseorang bila ia berada di tempat yang gelap. Sebab, dalam
pikirannya dalam kegelapan demikian akan muncul seesuatu yang ditakuti.
d) Kesakitan, merupakan ketakutan
yang disebabkan oleh rasa sakit yang dialami seseorang yang takut jika akan
menimbulkan kesakitan.
e) Kegagalan, merupakan
ketakutan dari seseorang disebabkan karena merasa bahwa apa yang akan
dijalanjan mengalami kegagalan. Seseorang yang patah hati tidak akan mudah
untuk bercinta kembali, karena takut dalam percintaan berikutnya juga akan
terjadi kegagalan, trauma yang dialaminya menjadikan dirinyua ketakutan jika
sampai terulang kembali.
5.3.1
Apa
yang menyebabkan seeseorang menjadi phobia?
Ahli-ahli medis mempunyai pendapat yang berbeda-beda dan
banyak penderita yang mempunyai teori tentang asal mula dari ketakutan mereka.
Kebanyakan phobianya dimulai dengan suatu schock emosional atau suatu tekanan
pada waktu tertentu, misalnya pekerjaan baru, kematian dalam keluarga, suatu
operasi atau sakit yang serius. Beberapa penderita mengatakan bahwa mereka
memang merasa gelisah dan tertekan sejak masih kanan-kanak, tetapi phobia juga
dapat berkembang dalam diri orang-orang yang kelihatannya tenang dan mantap.
Untuk mengatasi phobia yaitu dengan hipnoterapi.
mengkondisikan gelombang otak klien pada gelombang alfa atau theta dan
menjaganya pada gelombang tersebut. Ketika klien berada pada gelombang alfa atu
theta, maka semua memori yang pernah terjadi pada diri klien mulai dari janin
sampai dia dewasa dapat diakses atau diingat kembali. Betul, itulah kehebatan
pikiran bawah sadar kita yang mampu merekam semua kejadian/peristiwa yang
pernah kita alami. Dengan begitu kita dapat mengetahui kapan pertama kali klien
mengalami kejadian yang membuatnya phobia. Dengan mengetahui pemicu pertama
kalinya klien mengalami phobia, maka hal ini dapat diatasi dengan mudah.
5.4 Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai
kekalutan mental. Secara sederhananya, kekalutan mental sama dapat diartikan
sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seorang menghadapi persoalan
yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan tingkahnya tidak wajar.
> Gejala-gejala permulaan bagi
seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
a. nampak pada jasmani yang sering
merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
b.
nampak pada kejiwaannya dengan rasa
cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
> Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah
:
a.
gangguan kejiwaan nampak dalam
gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rokhaninya
b.
usaha mempertahankan diri dengan
cara negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara bertahan dirinya salah;
pada orang yang tidak menderita gangguan kejiwaan bila menghadapi persoalan,
justru lekas memecahkan problemnya, sehingga tidak menekan perasaannya. Jadi
bukan melarikan diri dari persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
c.
kekalutan merupakan titik patah
(mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan
> Sebab-sebab timbulnya kekalutan
mental itu diantaranya:
a.
kepribadian yang lemah akibat
kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna
b.
terjadinya konflik sosial budaya
akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam
masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi
c. cara pematangan batin yang salah
dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial; over acting
sebagai overcompensatie.
> Proses-proses kekalutan mental yang
dialami oleh seseorang mendorongnya ke arah;
a.
Positif
Trauma (luka jiwa) yang dialami
dijawab secara baik sebagai usaha agar tetap survive dalam hidup, misalnya
melakukan sholat tahajut waktu malam hari untuk memperoleh ketenangan dan
mencari jalan keluar untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya, ataupun
melakukan kegitan yang positif setelah kejatuhan dalam kehidupan.
b.
Negatif trauma yang dialami
diperlarutkan atau diperturutkan, sehingga yang bersangkutan mengalami
frustasi,yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan.
Bentuk frustasi antara lain :
1. agresi berupa kemarahan yang
meluap-luap akibat emosi yang tidak terkendali dan secara fisik berakibat mudah
terjadinya hypertensi (tekanan darah tinggi) atau tindakan sadis yang dapat
membahayakan orang sekitarnya.
2. regresi adalah kembali pada pola
reaksi yang primitif atau kekanak-kanakan (infantil), misalnya dengan
menjerit-jerit,menangis sampai meraung-raung,memecah barang-barang.
3.
fiksasi adalah peletakan atau
pembatasan pada satu pola yang sama (tetap), misalnya dengan membisu,
memukul-mukul dada sendiri, membentur-benturkan kepala pada benda keras.
4. proyeksi merupakan usaha melemparkan
atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negatif pada orang
lain, kata pepatah: awak yang tidak pandai menari, dikatakan lantai yang
terjungkit.
5. identifikasi adalah menyamakan diri
dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya, misalnya dalam kecantikan yang
bersangkutan menyamakan diri dengan bintang film, dalam soal harta kekayaan
dengan pengusaha kaya yang sukses.
6. narsisme adalah self love yang
berlebihan, sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior daripada
orang lain.
7.
autisme adalah gejala menutup diri
secara total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia
puas dengan fantasinya sendiri yang dapat menjurus ke sifat yang sinting.
5.5 Hubungan antara penderitaan dan
perjuangan
Setiap manusia pasti mengalami penderitaan, baik berat
ataupun ringan yang bersifaat kodrati yang sudah menjadi konsekwensi hidup
manusia. Karena terserah kepada manusia itu sendiri untuk berusaha mengurangi
penderitaan itu semaksimal mungkin, bahkan menghindari atau menghilangkan sama
sekali. Sehingga manusia hidup tidak boleh pesimis, yang menganggap sebagai
rangkaian penderitaan, melainkan optimis, berusaha mengatasi kesulitan hidup.
Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan
kelangsungan hidup. caranya yaitu berjuang menghadapi tantangan hidup dalam
alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada
Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Manusia hanya merencanakan
dan Tuhan yang menentukan.
5.6 Penderitaan, Media Masa, Dan Seniman
Berita mengenai penderitaan manusia silih berganti mengisi
berbagai media dengan maksud supaya semua orang yang menyaksikan ikut merasakan
dari jauh penderitaan manusia. Dengan demikian dapat menggugah hati manusia
untuk berbuat sesuatu.
Media masa merupakan alat yang paling tepat untuk
mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada
masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan
sikap antara sesama manusia terutama bagi yang simpati. Tetapi tidak kalah
pentingnya komunikiasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga
para pembaca, penontonnya dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan
karya seni.
5.7 Pengaruh penderitaan
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh
pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa
sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena
tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan
dalam peribahasa “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, “nasi
sudah menjadi bubur”.
Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup
bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari
penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap
positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap
keras atau sikap anti, misalnya anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin
paksa; anti ibu tiri, ia berjuang melawan sikap ibu tiri; anti kekerasan, ia
berjuangan menentang kekerasan, dan lain-lain.
Apabila sikap negatif dan sikap positif ini dikomunikasikan oleh para seniman
kepada para pembaca, penonton, maka para pembaca, para penonton akan memberikan
penilaiannya. Penilaian itu dapat berupa kemauan untuk mengadakan perubahan
nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan.keadaan
yang sudah tidak sesuai ditinggalkan dan diganti dengan keadaan yang lebih
sesuai. Keadaan yang berupa hambatan harus disingkirkan.
5.8 Mind Map
Daftar
pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar