
Identitas ( Identity )
Identitas adalah suatu ciri ciri atau
tanda-tanda yang melekat pada diri seorang individu yang menjadi ciri khasnya.
Identitas sering dihubungkan dengan atribut yang disematkan kepada individu
yang sebenarnya memiliki sifat majemuk. Contohnya atribut gender
(pria atau wanita) yang hadir secara kodrati pada seseorang bisa bergandeng
dengan atribut- atribut kodrati lainnya yang tidak bisa ditolak seseorang sejak
ia lahir, seperti agama, suku, ras, kasta maupun kebangsaan. Selain identitas
atau atribut yang bersifat kodrati (diberikan oleh Tuhan sejak lahir), ia juga
bersifat non-kodrati atau bisa dibuat akibat dari usaha seseorang. Cotohnya
kelas pendidikan, ekonomi, sosial dan agama. Dua jenis atribut atau lebih bisa
melekat pada setiap individu. Seorang Muslim adalah Batak dan pada saat yang
sama beridentitas kelas menengah, kelas terdidik, dan sebagainya.
Identitas bisa berdampak positif juga bisa berdampak
negatif. Jika identitas tersebut dapat menimbulkan rasa bangga, baik bagi
dirinya maupun komunitasnya, maka identitas bernilai positif. Sebaliknya
identitas dapat melahirkan masalah manakala ia menjadi alasan untuk berkonflik
bahkan berperang. Banyak contoh konflik yang tidak lepas dari persoalan
identitas kelompok, seperti konflik suku, ras dan agama yang sering terjadi di
berbagai belahan dunia. Konflik suku di Rwanda (suku Hutsi dan Tutsi),
konflik agama di India (Muslim-Hindu), di Serbia (Islam dan Katolik), di
Palestina (Islam dan Yahudi), di Irak (Sunni dan Syi’ah). Konflik serupa
terjadi pula di sejumlah daerah di Indonesia, seperti konflik suku di
Kalimantan Barat antara suku Madura dan Dayak, atau konflik bernuansa keyakinan
di Ambon antara komunitas Muslim dan Kristen.
Identitas dipahami juga sebagai ungkapan nilai-nilai
budaya yang dimiliki suatu komunitas, kelompok, atau bangsa yang bersifat khas
dan membedakannya dengan kelompok atau bangsa yang lain. Kekhasan yang melekat
pada sebuah bangsa ini dikenal secara umum dengan sebutan “identitas nasional.”
Identitas yang melekat pada suatu bangsa tidaklah bersifat statis. Identitas
adalah sesuatu yang dapat dibentuk oleh suatu individu maupun kelompok.
Flexibility
Sikap fleksibel adalah kemampuan kita untuk dapat
menyesuaikan dengan perasaan, pikiran bahkan tindakan dengan keadaan yang
berubah-ubah.
Identity flexibility
Di Internet kita sangat bebas menggunakan identitas
diri sesuai dengan yang kita inginkan. Artinya kita dapat menjadi seorang yang
bukan kita dan sangat berbeda dengan kita pada kehidupan nyata. Kebebasan
menggungkapan diri kita pada komunitas virtual juga dapat mengubah identitas
gender seperti yang diinginkan. Seorang pria bisa menjadi perempuan begitu juga
sebaliknya. Bahakan pria yang kuat perkasa yang terlihat di dunia nyata bisa
disebut “laki banget” dalam komunitas virtual dapat berubah menjadi seorang
lelaki yang dapat kita presepsikan sebagai laki-laki kemayu karena melihat
postingan dalam sosial media seperti foto, status yang ia ciptakan sendiri.
Karena ciri-ciri fisik seperti tubuh, jenis kelamin, gender dan usia menjadi
fleksibel di dalam dunia maya.
Yang menjadi masalah disini adalah apakah komunitas
virtual ini akan menghasilkan orang-orang yang memiliki identitas diri yang
ganda ?. apakah dengan adanya komunitas virtual membuat orang-orang lebih
banyak berani berkomentar menggunakan sosmednya dibandingkan berbicara
langsung. Apakah orang lebih tertarik dengan komunitas virtualnya dibandingakan
dengan komunitas organiknya ?. jawaban semua itu adalah ada pada diri kita.
Yang perlu kita tahu adalah komunitas virtual ada dan memberikan
kesempatan kepada kita untuk menjalin hubungan dengan orang lain
yang tidak terbatas waktu jarak dan biaya dengan kesulitan yang lainnya. Dalam
komunitas virtual kita tidak boleh semata-mata percaya dengan orang yang baru
kita kenal. Di komunitas virtual semua yang ditawarkan dalam komunitas virtual
adalah palsu yang mungkin dibuat sesuai yang ingin ditampilkan seseorang di
publik.
Penting bagi kita mengetahui bahwa dalam teori
penetrasi sosial yang menganalogikan kepribadian manusia seperti bawang yang
berlapis-lapis dan dengan seiringnya berjalan waktu dan jumlah kita bertemu
tatap muka dan berkomunikasi dan menjalankan hubungan yang semakin intim akan
membuka lapisan-lapisan kepribadian seseorang semakin dalam. Hampir dikatakan tidak
mungkin hal ini dilakukan pada komunitas virtual yang tidak bertemu dan saling
kenal dapat berkomunikasi sangat intim dan mengetahui kepribadian lawan bicara
secara dalam seakan yang diketahui di dalam sosmed atau komunitas
virtualnya itu benar semua tentang dia. Bisa saja hal itu hanya dibuat-buat
yang sengaja di konstruksikan di komunitas virtual untuk mendapatkan
presepsi yang dia inginkan sesuai dengan harapanya.
Sumber
:

