II. Asal Mula Kehidupan Di Bumi
Tentunya kita sebagai manusia sering bertanya-tanya. “dari mana
asal kehidupan di bumi?” pada hakikatnya jawaban atas pertanyaan it melahirkan
banyak teori-teori tentang asal mula kehidupan di bumi, diantaranya adalah :
Ø Teori
Kreasi Khas (Special Creation)
Menyatakn bahwa kehidupan diciptakan oleh suatu zat
supranatural.Teori menghubungkan kehidupan dengan hal mistik atau yang
menyangkut dengan hal-hal ghaib.Teori mantap menyatakn bahwa kehidupan tidak
memiliki asal-usul (keadaan mantap).Teori ini mempercayai bahwa kehidupan
terjadi begitu saja tanpa sangkut paut denagn asal-usul.
Ø Teori
Kosmozoan
Menyatakn bahwa kehidupan berasal dari spora kehidupan yang
datangnya dari luar angkasa.Pendapat ini lemah karna tidak ada bukti yang nyata
dan konkrit.
Ø Teori
Generatio Spontanea
Menyatakan bahwa makhluk hidup tercipta secara
mendadak (spontan).
Ø Teori Abiogenesis
Menyatakn bahwa makhluk hidup berasal dari benda tak hidup.Contoh
ulat timbul sendirinya di bangkai tikus dan tikus muncul sendirinya dari gudang
padi.Teori Biogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup
makhluk hidup sebelumnya.Maksudnya sudah ada makhluk awal yang sudah hidup
lama, lalu makhluk tersebut memiliki keturunan sampai berlanjut hingga sekarang.
Ø Teori
naturalistik/Evolusi Organik/Neoabiogenesis/Oportunistik
Menyatakan bahwa kehidupan tercipta melalui proses evolusi
kimia dan evolusi biologiberdasarkan pada konsep biologi modern.
Perkembangan/pertumbuhan pada kimia dan biologi melalui proses panjang dan hal
tersebut menghasilkan sebuah perubahan, dan perubahan tersebut menjadi makhluk
hidup.
Adapun
teori-teori yang berpendapat mengenai asal-usul kehidupan :
1. Aristoteles
Aristoteles menyatakan bahwa makhluk hidup tercipta dari benda tak hidup
yang berlangsung secara spontan (generatio spontanea).Misalnya cacing dari
tanah, ikan dari lumpur, dan lainnya.Teori dianut oleh banyak orang selama
beberapa abad.
2. Pasteur
Pasteur menyatakan makhluk hidup sebagai berikut :
“Omne
Vivum Ex Ovo, omne Ovum ex Vivo, Omne Vivum Ex Vivo’’ yang berarti makhluk
hidup berasal dari telur, telur berasal dari makhluk hidup, makhluk hidup
berasal dari makhluk hidup.
3. Teori
Dentuman besar / Big Bang
Teori Big Bang menyatakan bahwa “seluruh materi dan energi dalam alam
semesta pernah bersatu membentuk sebuah bola raksasa. Kemudian bola raksasa ini
meledak sxehingga seluruh materi mengembang karna pengaruh energi ledakan yang
sangat besar”.
4. Materialisme
Teori menyatakan bahwa semua yang ada adalah materi, dan bahwa semua
kehidupan pada dasarnya adalah bentuk atau pengaturan yang kompleks dari
materi. Empedokles (430 SM) berpendapat bahwa setiap hal di alam semesta
terdiri dari kombinasi empat “elemen” abadi atau “akar dari semua” : bumi, air,
udara, dan api. Semua perubahan dijelaskan oleh pengaturan dan penataan ulang
dari empat elemen tersebut.Berbagai bentuk kehidupan disebabkan oleh campuran
yang tepat dari unsur-unsur. Misalnya, pertumbuhan tanaman disebabkan oleh
gerakan kebawah secara alami unsur bumi dan gerakan ke atas secara alami dari
api.
5. Teori
Urey
Harold Urey (1893) seorang ahli kimia dari A.S mengemukakan bahwa
atmosfer bumi pada awal mulanya kaya akan gas-gas metana (CH4), amoniak (NH3),
hidrogen (H2), dan air (H2O). Zat-zat itu merupakan unsur-unsur penting yang
terdapat dalam tubuh makhluk hidup.Diduga karna adanya energy dari aliran
listrik halilintar dan radiasi sinar kosmos unsur-unsur itu mengadakan
radiasi-radiasi kimia membentuk zat-zat hidup. Zat hidup yang mula-mula
terbentuk kira-kira sama dengan keadaan virus yang kita kenal sekarang. Zat itu
berjuta-juta tahun berkembang menjadi berbagai jenis organisme.
6. Teori
Charles Darwin
Menurut teori Charles Darwin manusia modern
berevolusi dari sejenis makhluk mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini,
yang di duga telah di mulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan
bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia modern dan nenek
moyangnya. Menurut skenario yang sungguh di buat-buat ini, di tetapkan kelompok
dasar sebagai berikut.
o
Autralophitecus
o
Homo habilis
o
Homo erectus
o
Homo sapiens
Genus yang dianggap sebagai nenek moyang
manusia yang mirip kera tersebut oleh evolusionis di golongkan
sebagai Australopithecus, yang berarti “kera dari
selatan”.Australophitecus,yang tidak lain adalah jenis kera purba yang telah
punah, detemukan dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka lebi8h besar dan
kuat dan tegap, sementara yang lain lebih kecil dan rapuh dan lemah. Dengan
menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut sebagai “Australopithecus>Homo
habilis> Homo sapiens”, evolusionis secara tidak langsung menyatakan bahwa
setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya.
Ø Asal
Usul Kehidupan Menurut Pandangan Agama Islam.
Di dalam Al-qur’an proses kejadian manusia
secara biologis dijelaskan secara terperinci dan Al-qur’an juga menyatakan
dengan tegas bahwa manusia di ciptakan dari tanah liat. Sebagaimana firman
Allah yang artinya :“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia itu
dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu
air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (Rahim). Kemudian air mani itu
kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal
daging, dan segumpal daging itu kami jafdikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan ia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah-Lah pencipta yang paling baik.” (QS.
Al-Mu’minuun 12-14).
Ungkapan ilmiah dari Al-qur’an dan hadits 15
abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk
memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia.Selanjutnya yang dimaksud di
dalam Al-qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai subtansi dasar kehidupan
mjanusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal
dan hidup dari tanah.
Yang kemudian melalui proses metabolisme yang
ada didalam tubuh diantaranya menghasilkan hormone (sperma), kemudian hasil
dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma
(lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam Rahim. Kemudian berproses hingga
mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti yang dijelaskan dalam ayat di
atas).
a.
Teori
Tentang Proses Terbentuknya Bumi
Ø Teori
Kabut (Nebula)
Salah satu teori yang mengemukakan proses
terbentuknya bumi adalah Teori Kabut (Nebula). Teori ini dicetuskan oleh
Immanuel Kant pada tahun 1755 dan Piere De Laplace pada tahun 1796.
Teori ini mengemukakan bahwa bumi ini
terbentuk dari gas. Gas-gas ini awalnya memang sudah tersedia di alam raya,
yang kemudian berkumpul membentuk kabut.Karena gas-gas tersebut masing-masing
memiliki daya tarik yang sama-sama besar, oleh karena itu gas-gas tersebut
membentuk kumpulan kabut yang sama-sama besar dan terlempar ke arah
khatulistiwa membentuk planet-planet termasuk bumi.
Ø Teori
Planetesimal
Teori yang kedua yaitu teori planetisimal.
Teori ini dikemukakan oleh Forest Ray Moulton dan Thomas C. Chamberlain yang
merupakan seorang pakar astronomi. Teori ini dikemukakan pada abad ke 20. Inti
dari teori ini, bumi dan planet-planet lainnya terbentuk dari gas yang
terlempar dari bagian tepi matahari, yang kemudian menjadi dingin dan padat.
Ø Teori
Pasang Surut Gas (Tidal)
Teori pasang surut gas dikemukakan oleh
James Jeans dan Harold Jeffreys pada tahun 1918. Teori ini
berawal dari kisah ketika matahari masih berbentuk gas. Bagaimana kemudian bumi
bisa terbentuk seperti sekarang?
Menurut teori ini, saat matahari masih
berwujud gas tersebut, sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak yang
cukup dekat, sehingga terjadi pasang surut gas di matahari.Pasang surut yang
dimaksud, seperti pasang surut air laut yang terjadi di bumi. Lalu, karena
kejadian itu, maka ada partikel-partikel matahari yang terlempar dan pada
akhirnya membentuk bumi dan planet lainnya.
Ø Teori
Bintang Kembar
Seorang ahli astronomi bernama R.A
Lyttleton, mengemukakan bahwa galaksi dan seluruh isinya, termasuk bumi berasal
dari kombinasi bintang kembar. Kemudian salah satu dari bintang kembar itu pun
meledak. Bintang yang meledak itu, akhirnya membentuk planet-planet, yang pada
akhirnya mengelilingi bintang yang tidak meledak. Bintang yang tidak meledak
itu adalah matahari.
Ø Teori
Big Bang
Teori ini mengungkapkan bahwa bumi
terbentuk mulai dari puluhan milyar tahun yang lalu. Awalnya, bumi terbentuk
dari gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Kemudian pada akhirnya
gumpalan kabut itu meledak, mendingin dan memadat membentuk planet-planet.
b.
Perbedaan
Teori Abiogenesis & Biogenesis
Ø Abiogenesis
Abiogenesis adalah kepercayaan kuno tentang
asal usul kehidupan. Hal ini juga dikenal sebagai teori generasi spontan
kehidupan. Teori abiogenesis menyatakan bahwa asal-usul makhluk hidup adalah
karena zat tak hidup, atau itu adalah insiden spontan. Namun, sampai sekarang
para ilmuwan telah mampu mencapai teori ini dengan eksperimen.
Ø Biogenesis
Biogenesis adalah teori yang diterima saat ini
mengenai asal usul kehidupan baru. Teori biogenesis menyatakan bahwa asal usul
kehidupan adalah karena sel-sel hidup yang sudah ada sebelumnya atau organisme.
Louis Pasteur, Francesco Reddy, dan Lazzaro Spallanzani eksperimen yang
membuktikan teori ini.
Ø Perbedaan
Abiogenesis dan Biogenesis
Abiogenesis
menyatakan bahwa asal usul kehidupan adalah karena bahan tak hidup lain, atau
merupakan mekanisme spontan, sedangkan biogenesis mengungkapkan bahwa asal usul
kehidupan adalah karena organisme hidup lain yang sudah ada sebelumnya atau
sel.
c.
Percobaan
– Percobaan Yang Dilakukan Ilmuwan Pencetus Teori Asal Mula Kehidupan Di Bumi
Berikut adalah beberapa percobaan yang dilakukan oleh
beberapa ilmuwan pencetus teori asal mula kehidupan di bumi.
1. Francesco
Redi
Redi merupakan orang pertama yang
melakukan eksperimen untuk membantah teori abiogenesis. Dia melakukan percobaan
dengan menggunakan bahan daging segar yang ditempatkan dalam labu dan diberi
perlakuan tertentu.
Labu
I : diisi daging segar dan dibiarkan terbuka
Labu
II : diisi daging segar dan ditutup dengan kain kasa
Labu
III : diisi daging segar dan ditutup rapat
Ketiga
labu diletakkan di tempat yang sama selama beberapa hari. Hasilnya adalah
sebagai berikut:
Labu
I : dagingnya busuk, banyak terdapat belatung
Labu
II : dagingnya busuk, terdapat sedikit belatung
Labu
III : dagingnya tidak busuk, tidak terdapat belatung
Menurut Redi belatung yang terdapat pada
daging berasal dari telur lalat. Labu ke III tidak terdapat belatung karena
tertutup rapat sehingga lalat tidak bisa masuk. Sayangnya, meskipun tertutup
rapat ternyata pada labu tersebut bisa muncul belatung. Ini disebabkan karena
Redi tidak melakukan sterilisasi daging pada disain percobaannya.
2. Lazzaro
Spallanzani
Spallanzani juga melakukan percobaan untuk
membantah teori abiogenesis, tetapi menggunakan bahan kaldu. Disainnya sebagai
berikut:
Labu
I : diisi kaldu lalu dipanaskan dan dibiarkan terbuka
Labu
II : diisi kaldu, lalu ditutup dengan gabus yang disegel dengan lilin,
kemudian dipanaskan
Setelah
dingin kedua labu diletakkan di tempat yang sama. Beberapa hari kemudian
hasilnya sebagai berikut.
Labu
I : berubah busuk dan keruh, banyak mengandung mikroba (bakteri)
Labu
II : tetap jernih, tidak mengandung mikroba

Menurut Spallanzani mikroba yang tumbuh
dan menyebabkan busuknya kaldu berasal dari mikroba yang beraada di udara.
Pendukung paham abiogenesis keberatan dengan disain Spallanzani karena menurut
anggapan mereka, labu yang tertutup menyebabkan gaya hidup (elan vital) dari
udara tidak dapat masuk, sehingga tidak memungkinkan munculnya makhluk hidup (mikroba).
3. Louise
Pasteur


Pada percobaan Pasteur mikroorganisme
terperangkap pada pipa S sehingga tidak bisa masuk ke dalam kaldu
Jika labu dimiringkan, dan kaldu sedikit
meluap menyentuh bagian pipa S maka mikroorganisme terbawa masuk ke dalam
kaldu. Mikroorganisme yang tumbuh menyebabkan kaldu menjadi keruh
Pasteur menyempurnakan percobaan Redi dan
Spallanzani. Ia menggunakan kaldu dalam labu yang disumbat dengan gabus.
Selanjutnya gabus tersebut ditembus dengan pipa berbentuk leher angsa (huruf
S), kemudian dipanaskan. Setelah dingin dibiarkan beberapa hari kemudian
diamati. Ternyata air kaldu tetap jernih dan tidak ditemukan mikroba.
Desain pipa yang berbentuk leher angsa
tersebut memungkinkan masuknya gaya hidup dari udara, tetapi ternyata tidak didapati
makhluk hidup dalam kaldu. Menurut Pasteur, mikroorganisme yang tumbuh dalam
kaldu berasal dari udara. Mereka tidak bisa masuk karena terhambat oleh bentuk
pipa. Hal ini bisa dibuktikan bila labu dimiringkan sedemikian rupa sehingga
kaldu mengalir melalui pipa dan menyentuh ujung pipa, ternyata beberapa hari
kemudian menyebabkan busuknya kaldu.
Dengan demikian Pasteur telah membuktikan
bahwa teori biogenesislah yang benar. Muncullah ungkapan :
“ omne
vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, omne vivum ex vivo”
yang
artinya: makhluk hidup berasal dari telur, telur berasal dari makhluk hidup,
makhluk hidup berasal dari makhluk hidup.
d.
Jelaskan
Apa Yang Dimaksud Efek Rumah Kaca
Ø Pengertian
efek rumah kaca
Pengertian efek rumah kaca adalah
suatu peristiwa yang bersifat alamiah hal ini terjadi karena adanya akibat
pantulan yang sangat panas pada dalam rumah kaca hal ini sering digunakan oleh
para petani untuk menanam sayuran di musim dingin khususnya pada suatu negara
yang telah mengenal empat buah musim. Peristiwa rumah kaca yaitu suatu keadaan
dimana sinar matahari akan masuk ke dalam rumah kaca guna membantu terjadinya
proses asimilasi itu.
Sisa panas yang dihasilkan dari energi
matahari tersebut seharusnya segera untuk dikeluarkan ke atmosfer, lalu
panasnya dipantulkan kembali oleh bilik kaca serta oleh atap kaca sehingga akan
menghasilkan suhu udara yang ada di dalam bilik kaca atau suatu ruangan
tersebut menjadi naik dan menghasilkan suasana yang hangat. Pantulan energi
panas kembali ke ruangan yang akan menjadikan suatu suhu yang ada dalam ruangan
itu menjadi hangat. Nah peristiwa inilah yang disebut dengan peristiwa efek
rumah kaca. Seperti yang sudah saya katakana diatas, anda mungkin sudah sering
sekali mendengar istilah rumah kaca akhir akhir ini, hal ini terjadi karena
banyaknya penyebab. Pada uraian dibawah ini, akan saya jelaskan mengenai
penyebab terjadinya rumah kaca.
Ø Penyebab
efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan karena
meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2)
dan gas-gas lainnya di atmosfer. Meningkatnya konsentrasi gas CO2 ini
disebabkan oleh banyaknya pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan
bakar organik lainnya yang melebihi kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk
menyerapnya.
Ø Energi
yang masuk ke Bumi:
o
25% dipantulkan oleh awan atau partikel
lain di atmosfer
o
25% diserap awan
o
45% diserap permukaan bumi
o
10% dipantulkan kembali oleh permukaan
bumi
Energi yang diserap dipantulkan kembali
dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian
besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan
gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek
rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara
siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan
efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen
dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas
tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan
mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini
dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga
mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan
global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat
menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan
meningkatnya suhu air laut sehingga berakibat kepada beberapa pulau
kecil tenggelam di negara kepulauan , yang membawa dampak perubahan yang
sangat besar.
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca
telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan
peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan
peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C
sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer,
maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi
diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan
bumi menjadi meningkat.
http://www.informasi-pendidikan.com/2015/09/pengertian-dan-penyebab-rumah-kaca.html





Tidak ada komentar:
Posting Komentar